Selain terkenal dengan tradisi karapan sapinya, Pulau Madura di Jawa Timur juga dikenal sebagai daerah penghasil sapi ternak di Indonesia. Beberapa wilayah di sana menjadi sentra peternakan sapi ras lokal, salah satunya adalah Pamekasan.
Di kabupaten itu, pemerintah daerah terus berupaya meningkatkan populasi dan mempertahankan kualitas sapi Madura. Salah satunya melalui program Sang Sultan (Strategi Pengembangan Sapi Madura Bibit Secara Simultan) dan program Papa Baru (Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru) yang dikembangkan di empat kecamatan tersebut.
Kedua program pengembangan sapi tersebut semakin relevan setelah Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Indonesia bisa mencapai swasembada daging sapi dalam lima hingga enam tahun ke depan. Target itu disampaikan Presiden Prabowo dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR RI 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 14 Agustus lalu.
Target swasembada daging sapi sebenarnya telah dicanangkan sejak tahun 2014. Namun hingga kini, Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan daging sapi dari produksi dalam negeri.
Daging sapi belum termasuk dalam daftar komoditas pangan strategis yang telah mencapai swasembada dalam setahun terakhir, yaitu beras, jagung, gula konsumsi, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Selain daging sapi, pemerintah masih menghadapi persoalan serupa pada daging kerbau dan bawang putih.
Karena itu, pemerintah terus berupaya mendorong peningkatan produksi melalui kementerian terkait dan pemerintah daerah.
Kementerian Pertanian, misalnya, menyiapkan program percepatan dengan mendatangkan sapi betina produktif dari luar negeri mulai tahun anggaran 2027. Penambahan sapi betina produktif tersebut diharapkan bisa meningkatkan populasi dan menambah persediaan daging.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi daging sapi Indonesia mencapai 499.150 ton pada 2025. Namun, berdasarkan proyeksi produksi dan konsumsi daging sapi dan kerbau periode 2024–2029, Indonesia masih akan mengalami defisit.
Pada 2025, produksi daging sapi potong diperkirakan mencapai 473.900 ton dan daging kerbau sekitar 17.800 ton. Total penyediaan sekitar 491.700 ton, sementara kebutuhan konsumsi diperkirakan mencapai 724.200 ton. Dengan demikian, terjadi defisit sekitar 232.500 ton.
Defisit itu diperkirakan masih berlanjut. Pada 2026, 2027, dan 2028, kekurangan daging masing-masing diproyeksikan mencapai 296.400 ton, 247.500 ton, dan 239.700 ton.
Untuk mengantisipasi kekurangan pasokan daging sapi, pemerintah menyiapkan sejumlah langkah, antara lain impor sapi potong bakalan serta daging dan jeroan beku, selain meningkatkan populasi sapi potong dan kerbau di dalam negeri.
Memperbanyak populasi, menjaga kualitas
Di Pamekasan, upaya meningkatkan populasi sapi telah dikembangkan sejak pemerintah mencanangkan program swasembada daging sapi pada 2014. Pemerintah Provinsi Jawa Timur pada periode yang sama juga mencanangkan Pulau Madura sebagai Pulau Sapi.
Salah satu upaya dilakukan melalui program Sang Sultan, yang bertujuan mempercepat perkembangbiakan sapi Madura dengan memperpendek jarak kelahiran.
Menurut Wakil Bupati Pamekasan Sukriyanto, dengan program tersebut perkembangan populasi sapi lebih meningkat.
"Ini tentu sangat mendukung program pemerintah pusat yang menginginkan Indonesia bisa swasembada daging," katanya.
Program Sang Sultan telah menunjukkan hasil. Jarak kelahiran sapi yang sebelumnya sekitar 18 bulan dapat dipangkas menjadi 12 bulan. Jumlah sapi dengan kualitas bagus (grade 1) juga meningkat drastis, dari 120 ekor menjadi 5.337 ekor.
Sementara itu, jumlah akseptor yang melahirkan setiap tahun meningkat dari 5 persen menjadi 40 persen. Selama program berlangsung, 2.959 surat keterangan layak bibit telah dikeluarkan.
Selain mempercepat perkembangbiakan, Pemerintah Kabupaten Pamekasan menjalankan program Papa Baru untuk mengembangkan bibit unggul sapi Madura di empat kecamatan.
Program ini merupakan bagian dari upaya mempertahankan sapi Madura sebagai rumpun ternak lokal Indonesia. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Pertanian Nomor 3735/Kpts/HK.040/11/2010 tentang Penetapan Sapi Madura sebagai Rumpun Ternak Lokal Indonesia.
Keputusan itu juga menempatkan sapi Madura sebagai sumber daya genetik hayati yang perlu dilestarikan dan memiliki peran penting dalam penyediaan sapi potong nasional.
Menurut Sukriyanto, sapi Madura memiliki sejumlah keunggulan. Sapi ini relatif tahan terhadap penyakit, mampu bertahan dalam kondisi pakan yang terbatas, serta memiliki karakteristik daging yang disukai konsumen.
Saat ini populasi sapi Madura di Pamekasan mencapai 194.182 ekor, sekitar 35.000 ekor di antaranya merupakan bibit unggul yang tersebar di Kecamatan Pakong, Pasean, Batumarmar, dan Waru.
Menjaga tradisi
Bagi masyarakat Pamekasan, sapi Madura juga menjadi bagian dari tradisi dan budaya. Selain karapan, masyarakat di sana juga rutin menggelar kontes kecantikan sapi yang disebut sapi sonok, serta lomba sapi pajangan yang dikenal sebagai sapi taccek.
Karena itu, pengembangan populasi dan kualitas sapi memiliki dua kepentingan sekaligus. Pertama, memperkuat ekonomi peternak dan mendukung kebutuhan daging nasional. Kedua, menjaga tradisi yang menjadikan sapi sebagai bagian penting dari kebudayaan Madura melalui pelestarian bibit unggul.
"Dan melalui program ini, nantinya populasi sapi Madura akan terus meningkat. Apalagi sapi bukan hanya sekadar ternak, akan tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan budaya Madura," kata Sukriyanto. (ANTARA JATIM, 26 Agustus 2026)

Komentar
Posting Komentar