Langsung ke konten utama

Antara Syiah, Ahmad Wahib, dan Tafsir Fanatisme

"Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hambka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain".

Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi Al Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa Islam yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting dalam akal sehatku bahwa yang kufahami itu adalah Islam menurut Allah".

Catatan harian almarhum Ahmad Wahib, seorang wartawan Majalah Tempo asal Sampang dalam buku "Pergolakan Pemikiran Islam" memang tidak ada kaitannya dengan tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012. Tapi catatan yang ditulis oleh orang Sampang sendiri ini seorang telah menggiring kita untuk mengingat tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustus 2012.

Wahib memang tidak banyak dikenal, tidak sepopuler para pembaharu pemikiran Islam lainnya di Indonesia, semisal Noercholish Madjid, Dawam Raharjo, Djohan Effendi dan Mukti Ali, termasuk mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid.

Praktik atas interpretasi Islam yang dipersepsikan Wahib adalah proses menuju kebenaran yang sebenarnya (mutlak), bukan dalam kebenaran itu sendiri. Yakni Islam dalam proses menuju kesempurnaan, menuju kebenaran, bukan dalam klaim kebenaran itu sendiri, yang pada akhirnya bisa melahirkan fanatisme yang berlebihan.

Atau mungkin dengan kata lain, bukan Islam menurut Syiah, Islam menurut Sunni, bukan Islam menurut Al-Irsyad, Hidayatullah, atau Islam menurut aliran-aliran pemahaman lain yang juga mengatasnamakan Islam.

Dalam halaman 27 dari yang diberi judul "Islam menurut saya = Islam menurut Allah" itu, pemikiran Wahib memang bukan pemikiran mayoritas umat Islam, tetapi hanya sebatas coretan kegelisahan hati seorang Wahib, akan Islam yang sebenarnya.

Diakui atau tidak, klaim atas tafsir keagamaan memang sering kali berlebihan, sehingga menghapus toleransi dan berbagai pemahaman yang berbeda. Jihad atas nama agama ataupun stigma "kami yang benar dan mereka sesat" seolah menjadi legitimasi untuk melakukan tindakan melanggar hukum.

Tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustus 2012, nampaknya salah satu bentuk fanatisme akan klaim kebenaran atas tafsir pemahaman Islam yang terlalu berlebih, sehingga ruang perbedaan paham dianggap sebagai ancaman.

Direktur Central of Religion and Political Studies (Centries) Madura, Sulaisi Abdurrazak, menilai, tragedi di Sampang, memang bagian dari klaim kebenaran berlebihan atas tafsir keagamaan, disamping memang ada persoalan pribadi di antara penganut Syiah dan Sunni.

Padahal, kata dia, wahyu Ilahi yang disampaikan kepada Nabi Muhammad pada dasarnya adalah bersifat multak. Akan tetapi ketika sampai kepada manusia yang serba nisbi, relatif atau terbatas, maka tafsir atas wahyu yang bersifat mutlak itu juga kemudian akan menjadi nisbi. Yakni sesuai dengan kemampuan manusia itu sendiri.

"Nah di sinilah ruang dialog antara kemutlakan dan kenisbian mendapatkan tempat untuk melahirkan tafsir keagamaan yang berbeda," katanya dia.

Pada masa Nabi Muhammad, memang tidak ada perbedaan dalam memahami dan menafsirkan wahwu Ilahi yang disampaikan kepada nabi, karena 'sang penafsir tunggal', yakni Nabi Muhammad itu sendiri masih hidup. Namun setelah beliau wafat, aliran pemahaman keagamaan (mazhab) lalu berkembang.

Sebut saja seperti Mazhab Imam Hambali, Imam Hanafi, Maliki dan Mazhab Imam Syafe'i, termasuk Syiah.

Mazhab Hanafi didirikan oleh Imam Abu Hanifah. Mazhab Hanafi adalah yang paling dominan di dunia Islam yakni sekitar 45 persen, penganutnya banyak terdapat di Asia Selatan (Pakistan, India, Bangladesh, Sri Lanka, dan Maladewa), Mesir bagian Utara, separuh Irak, Syria, Libanon dan Palestina (campuran Syafi'i dan Hanafi), Kaukasia (Chechnya, Dagestan).

Mazhab Maliki, didirikan oleh Imam Malik, diikuti oleh sekitar 25 persen muslim di seluruh dunia. Mazhab ini dominan di negara-negara Afrika Barat dan Utara. Mazhab ini memiliki keunikan dengan menyodorkan tatacara hidup penduduk Madinah sebagai sumber hukum karena Nabi Muhammad hijrah, hidup, dan meninggal di sana; dan kadang-kadang kedudukannya dianggap lebih tinggi dari hadits.

Selanjutnya Mazhab Syafii memiliki penganut sekitar 28 persen Muslim di dunia. Pengikutnya tersebar terutama di Indonesia, Turki, Irak, Syria, Iran, Mesir, Somalia, Yaman, Thailand, Singapura, Filipina, Sri Lanka dan menjadi mazhab resmi negara Malaysia dan Brunei.

Lalu Mazhab Hambali dipelopori oleh para murid Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab ini diikuti oleh sekitar 5 persen muslim di dunia dan dominan di daerah semenanjung Arab. Mazhab ini merupakan mazhab yang saat ini dianut di Arab Saudi.

Aliran Syiah adalah kelompok aliran Islam yang juga berkembang dalam dunia Islam dan di satu sisi adalah memiliki pemahaman berbeda dengan empat mazhab yang ada.

Syiah atau lebih dikenal lengkapnya dari kalimat bersejarah Syiah 'Ali pada awal mula perkembangannya juga banyak memiliki aliran. Namun hanya tiga aliran yang masih ada sampai sekarang, yaitu Itsna 'Asyariah (paling banyak diikuti), Ismailiyah dan Zaidiyah. 

Di dalam keyakinan utama aliran ini, Ali bin Abu Thalib dan anak-cucunya dianggap lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan sebagai khalifah dan imam bagi kaum muslimin.

Selain Syiah dan Sunni, sejarah peradaban Islam juga mencatat ada aliran lain yang juga pernah ada di dunia Islam, yakni Khawarij.

Mazhab Khawarij mencakup sejumlah aliran dalam Islam yang awalnya mengakui kekuasaan Ali bin Abi Thalib, lalu menolaknya karena melakukan takhrif (perdamaian) dengan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mereka anggap zalim. 

Awalnya, mazhab ini berpusat di daerah Irak bagian selatan. Kaum Khawarij umumnya fanatik dan keras dalam membela mazhabnya, serta memiliki pemahaman tekstual Al-Quran yang berbeda dari Sunni dan Syiah.

"Fakta adanya kelompok pemahaman keagamaan yang semua Islam ini, sering tidak tersampaikan secara lengkap kepada generasi muda Islam, dan mereka tidak diperkenalkan seperti apa jenis pemahaman yang mereka anut," kata Sulaisi.

Kalaupun ada yang sebagian lembaga pendidikan Islam yang mengajarkan menenai aliran pemahaman keagamaan yang berkembang dalam dunia Islam, namun dari sisi penyampaikan tidak secara utuh.

Akibatnya opini yang terbangun aliran yang berbeda dengan mayoritas adalah sesat dan tidak berhak hidup di tengah-tengah kelompok mayoritas.

Pola berpikir seperti ini terkesan sama dengan pola pikir, "Jika ada 1 orang waras berhadapan dengan 5 orang gila, maka 1 orang yang waras ini juga bisa dipersepsi gila di hadapan 5 orang gila tersebut".

"Tapi saya kira kasus penyerangan kelompok minoritas oleh kelompok mayoritas di Sampang itu tidak seperti itu," kata Sulaisi menambahkan.

Tragedi Sampang, pada 26 Agutus 2012 telah menyebabkan satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka, serta sebanyak 47 unit rumah pengikut aliran itu hangus dibakar kelompok penyerang.

Sebanyak 282 orang kini terpaksa hidup di pengungsian di gedung olahraga Wijaya Kusuma Sampang. Sempat ada pemikiran dari pemerintah meraka akan direlokasi dengan mengikuti program transmigrasi, tapi menolak.

Perbedaan paham keagamaan memang sering disebut-sebut sebagai pemicu terjadinya konflik bernuansa Sara di Sampang ini selain persoalan pribadi antara pimpinan Islam Syiah dengan salah seorang pengikut aliran Sunni.

Namun, Ketua Dewan Syuro Ahlulbait Indonesia (ABI) Dr Umar Shahab yakin, tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah di Sampang itu, karena provokasi oknum masyarakat yang tidak menginginkan umat Islam hidup secara damai.

Alasan Umar Shahab memang sangat beralasan, mengingat mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman dalam menyebutkan, bahwa Syiah adalah NU minus imamah. Tradisi Sunni dan tradisi Syiah adalah sama, Al Qurannya sama dan sama-sama melafalkan dua kalimat syahadat.

Adanya kemungkinan provokasi dari pihak ketiga sebagaimana kecurigaan Umar Shahab, atau sentimen pribadi dalam kasus Sampang bisa saja benar. 

Tapi "tafsir ke-Islam-an dalam proses menuju yang paling benar" sebagaimana pemikiran Ahmad Wahib, barangkali perlu untuk ditanamkan dalam diri umat Islam, agar tidak menimbulkan fanatisme berlebihan.

Sebab Islam sejatinya adalah agama yang menjadi rahmat bagi seru sekalian alam, agama yang toleran atas perbedaan, benci terhadap permusuhan, apalagi saling membunuh antar sesama umat Islam. (*)



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Jalan Tengah Mengatasi Peredaran "Rokok Durno" di Madura

PAMEKASAN -  Peredaran rokok ilegal akhir-akhir ini semakin marak, menyebar di berbagai wilayah di negeri ini, tak terkecuali di empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur; Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Rokok tanpa pita cukai atau yang dikenal oleh masyarakat Madura dengan sebutan  rokok durno  itu menunjukkan volume peredaran yang cenderung meningkat secara fantastis. Harga yang jauh lebih murah dengan rasa dan aroma yang tidak kalah dari rokok legal menjadi pertimbangan khusus bagi para perokok. Ratusan merk rokok yang tidak dilekati pita cukai ini banyak terpajang di berbagai toko kelontong, pasar tradisional, hingga di warung-warung kopi pedesaan dengan harga jual yang jauh lebih murah dibanding rokok bercukai, yakni antara Rp8 ribu hingga hingga Rp15 ribu. Para produsen nampaknya juga telah memahami sasaran dan kebutuhan pembeli, sehingga banyak di antara mereka memproduksi rokok menyerupai merek yang telah dikenal luas di masyarakat. Di berbagai acara...

Sinergi Pemerintah Pusat-Daerah Kembangkan Usaha Mikro

Pamekasan - Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan ekonomi sangat dibutuhkan, terutama dalam menyukseskan pengembangan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan sinergi dalam artian terlaksana program yang saling membantu dan menguntungkan, akan mempercepat terwujudnya pelaku usaha yang kreatif dan memiliki kemampuan memadai, di samping akan bisa membangun akses jaringan yang lebih luas. Hakikat dari pertumbuhan ekonomi, menurut dia, apabila jaringan usaha semakin luas, kemampuan atau sumber daya manusia (SDM) memadai, dan kemampuan melakukan inovasi produk usaha yang terus menerus atau berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal itu, akses jaringan harus diperluas, di samping penting pula untuk memahami kebutuhan pasar dan membuka akses pasar baru dengan mempertimbangkan kebutuhan di daerah lain, baik tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional atau global. "Di sinilah pentingnya adanya sinergi...

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia. Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII. Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut " tidak beradap ". Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu...