Langsung ke konten utama

Postingan

Catatan Akhir Tahun - Tragedi Kemanusiaan di Sampang Belum Teratasi

Oleh: Abd Aziz Sampang - Tragedi kemanusiaan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, yang menimpa ratusan pengikut aliran Islam Syiah, akibat aksi penyerangan sekelompok warga pada 26 Agustus 2012, hingga saat ini belum teratasi, di mana para korban masih tinggal di lokasi pengungsian. Para korban dalam kasus tragedi kemanusiaan di Sampang, Madura ini terpaksa tinggal di tempat penampungan di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang dengan kondisi yang sangat terbatas. Mereka juga terpaksa hidup dengan belas kasihan orang lain. Juru bicara kelompok Islam Syiah, Iklil Almilal mengaku, tidak tahu sampai kapan mereka harus tinggal di lokasi pengungsian dan kembali ke kampung halamannya di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, Sampang.

Cita-Cita Ainul Yaqin Terkubur di Kampus Pelayaran

Bangkalan - Pihak keluarga siswa pada Balai Pendidikan dan Pelatihan Ilmu Pelayaran (BP2IP) Surabaya asal Bangkalan, Madura, yang meninggal dunia dengan kondisi tidak wajar di kampusnya, Minggu (30/9) menuntut keadilan.  "Kami akan menuntut keadilan kepada BP2IP karena anak kami mati dengan kondisi tidak wajar," kata orang tua korban, Achmad Djailani, Senin.  Anaknya, Ainul Yaqin (19) pada Minggu (30/9) malam dipulangkan oleh BPIP Surabaya dalam keadaan tewas dengan kondisi tubuh lebam, rahangnya patah, serta mulutnya mengeluarkan darah.

Antara Syiah, Ahmad Wahib, dan Tafsir Fanatisme

"Aku belum tahu apakah Islam itu sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hambka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama-ulama kuno, Islam menurut Djohan, Islam menurut Subki, Islam menurut yang lain-lain". Dan terus terang aku tidak puas. Yang kucari belum ketemu, belum terdapat, yaitu Islam menurut Allah, pembuatnya. Bagaimana? Langsung studi Al Quran dan Sunnah? Akan kucoba. Tapi orang-orang lainpun akan beranggapan bahwa Islam yang kudapat itu adalah Islam menurut aku sendiri. Tapi biar, yang penting dalam akal sehatku bahwa yang kufahami itu adalah Islam menurut Allah". Catatan harian almarhum Ahmad Wahib, seorang wartawan Majalah Tempo asal Sampang dalam buku "Pergolakan Pemikiran Islam" memang tidak ada kaitannya dengan tragedi yang menimpa kelompok Islam Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012. Tapi catatan yang ditulis oleh orang Sampang sendiri ini seorang telah menggiring kita untuk mengingat tragedi Sampang pada tanggal 26 Agustu...

Pesan Perdamaian dari Tragedi Sampang

Oleh  Abd Aziz SAMPANG, KOMPAS.com --Shalat Jumat warga Syiah korban penyerangan kelompok anti-Syiah di Gedung Olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang, Madura, menyampaikan pesan perdamaian dan pentingnya kerukunan sesama umat Islam. Pesan perdamaian itu damai disampaikan Ketua Dewan Syuro Ahlulbait Indonesia (Abi) Doktor Umar Shahab selaku khatib pada shalat Jumat (31/8). Dalam khutbahnya, Umar menjelaskan, musibah yang menimpa kaum Syiah di Sampang adalah ujian dari Allah SWT seperti telah ditegaskan dalam Al Quran. "Allah akan menguji kamu dengan rasa takut dan rasa lapar," katanya menjelaskan.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (3)

Pascakonflik berdarah itu, berbagai pihak di lingkungan Pemkab Sampang, terus melakukan berbagai upaya pendekatan untuk meredam gejolak massa. Salah satunya seperti yang dilakukan Badan Kesatuan Bangsa (Bakesbang). Lembaga ini terus berupaya melakukan pendekatan terhadap para ulama dan tokoh masyarakat setempat guna menyelesaikan konflik horizontal di wilayah itu. "Sampai saat ini, kami terus berupaya melakukan pendekatan agar para ulama di Sampang ini bisa membantu ikut meredam konflik di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang," kata Kepala Bakesbang Sampang Rudi Setiadi.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (2)

Tragedi kemanusiaan Sampang pada 26 Agustus 2012 itu bermula ketika beberapa orangtua pengikut ajaran Syiah hendak mengantar sekitar 20 anak Syiah menuntut ilmu di Yayasan Pondok Pesantren Islam (YAPI), Bangil, Pasuruan.  Pada sekitar pukul 10.00 WIB, sebelum keluar dari gerbang Desa Karang Gayam, rombongan pengantar dihadang oleh sekitar 30 orang bersepeda motor. Massa melengkapi dirinya dengan celurit, parang, serta benda tajam lainnya. Anak-anak Syiah yang sudah naik angkutan umum disuruh turun, sedangkan yang mengendarai kendaraan dipaksa pulang ke rumah mereka masing-masing. Sebagaian warga Syiah yang berupaya melawan aksi itu justru membuat massa makin beringas sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Menyemai Benih Perdamaian dari Tragedi Sampang (1)

Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di Sampang, Madura, Jawa Timur, 26 Agustus 2012. Satu orang tewas dan enam orang lainnya luka-luka serta sebanyak 47 rumah pengikut aliran Islam Syiah ludes dibakar massa penyerang. Tidak hanya itu, sedikitnya 282 warga Syiah di Desa Karang Gayam, Kecamatan Omben, dan Desa Bluuran, Kecamatan Karangpenang, harus dievakuasi. Kini, mereka terpaksa hidup di pengungsian di gedung olahraga (GOR) Wijaya Kusuma, Sampang. "Pemicu konflik berdarah itu bukan karena perbedaan paham, antara kelompok Islam Sunni dengan Syiah, tetapi karena persoalan pribadi antara pimpinan Syiah Tajul Muluk dengan saudaranya Roisul Hukama yang beraliran Sunni," ucap Bupati Sampang, Noer Tjahja.