Langsung ke konten utama

Postingan

Kegigihan Sunarmi Memperjuangkan Pendidikan Anak-anaknya

Oleh: Abdul Aziz Siang itu suasana di Desa Gagah, Kecamatan Kadur, Pamekasan, Madura cuaca sangat panas. Sinar mentari begitu terasa menyengat tubuh. Di sebuah rumah sederhana berukuran 3 x 6 yang terbuat dari gedek (atap dari anyaman bambu-red) Dusun Daporah di desa itu, terlihat seorang perempuan paruh baya sedang duduk bersandar pada bale-bale di teras rumahnya, menikmati semilir angin pengunungan yang bertiup sepoi-sepoi. Sesekali perempuan ini mengipas-ngipas tubuhnya dengan bekas koran lusuh, terbitan tahun 1990-an. Sambil sesekali, menikmati wedang jahe yang masih hangat dan baru saja dibuatnya.

Jalan Panjang Pembebasan TKI Terancan Kisas

Oleh: Abdul Aziz "Tak ada kata-kata yang bisa kami sampaikan selain ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada pemerintah Indonesia, karena telah membebaskan saya dan istri saya dari kisas." Kalimat inilah yang disampaikan Hasin Taufik bin Tasid (40) warga Dusun Glugur, Desa Palengaan Laok, Kecamatan Palengaan, Pamekasan, kepada sejumlah wartawan yang meliput kedatangannya di pendopo pemkab setempat, Minggu (19/2) sore. Hasan dijemput dari Bandara Juanda dengan mobil berpelat nomor M 1778 E dan tiba di pendopo Pemkab Pamekasan sekitar pukul 15.30 WIB bersama istrinya Sab'atun. Hasin mengenakan kemeja berwarna hijau lumut dengan kopiah putih dan istrinya berbaju dan rok berwarna coklat.

Catatan Dari Kongres I Bahasa Madura (2)

Ketua Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), Syafiudin Miftah menyatakan, ancaman akan kepunahan Bahasa Madura, sama halnya dengan ancaman terhadap kepunahan budaya dan tradisi yang ada di Madura. Sebab bahasa menunjukkan identitas, suatu daerah dalam konteks ke-Indonesia-an. Kusnadi,M.A, salah satu nara sumber di Kongres I Bahasa Madura dari Universitas Jember (Unej) menyatakan, orang Madura, menyebar di berbagai provinsi yang ada di Indonesia. Sebagian besar mereka berdomisili di Jawa Timur 6.281.058 jiwa (92,72%), Kalimantan Barat 203.612 jiwa (3,01%), Kalimantan Tengah 62.228 jiwa (0,92%), Jakarta 47.005 jiwa (0,69%), Kalimantan Selatan 36,334 jiwa (0,54%), Kalimantan Timur 30.181 jiwa (0,45%), Bali 18.593 jiwa (0,27%), Jawa Barat 17.914 jiwa (0,26%) dan yang terakhir adalah Jawa Tengah 14.166 (0,21%).

Catatan Dari Kongres I Bahasa Madura (1)

Penutur Bahasa Madura, baik yang berdiam di dalam maupun di luar pulau Madura saat ini diperkirakan di atas 10 juta orang. Karena itu pembinaan terhadap Bahasa Madura harus dilakukan sebagai upaya pelestarian dan pengembangan agar bahasa tersebut bisa memberikan sumbangan yang berharga bagi pengembangan budaya bangsa. Inilah yang menjadi salah satu landasan pemikiran tokoh dan pemerhati Bahasa Madura menggelar Kongres I Bahasa Madura pada 15 hingga 19 Desember 2008 di Kabupaten Pamekasan. Kongres diikuti 250 peserta tetap, utusan dari empat kabupaten di Madura, serta kabupaten lain di Jawa Timur yang mayoritas penduduknya juga berbahasa Madura, seperti Situbondo, Bodowoso dan Kabupaten Jember.

Kesejateraan GTT di Pamekasan Masih Memprihatinkan

Oleh: Abd Aziz Suasana pagi di kawasan Kota Pamekasan, Madura, Jawa Timur, cukup cerah. Secerah mentari pagi yang bersinar di ufuk timur. Akitivitas warga kota juga mulai terlihat, terutama di sekitar monomen Arek Lancor yang terletak di jantung kota Kabupaten Pamekasan yang sedang mencanangkan program pembangunan Gerakan Masyarakat Islam atau "Gerbang Salam". Indahnya suasana pagi itu seolah hanya lintasan peristiwa yang berlalu begitu saja. Sebab tidak demikian halnya yang dirasakan ribuan guru dan pegawai yang tergabung dalam Forum Komunikasi Guru Tidak Tetap (GTT) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT) Pamekasan. Wajah ceria tidak tampak di raut wajah mereka. "Sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, hanyalah predikat yang manis di dengar, tapi tidak demikian dengan kesejahteraan yang kami terima selama ini," kata Hafid, seorang guru tidak tetap di SMA Negeri 1 Pamekasan, sambil mengatur teman-temannya yang hendak berunjukrasa ke kantor DPRD Pamekasan, gu...

Sengketa Tanah Ganggu Proses Belajar-Mengajar di Madura

Oleh: Abd Aziz Pamekasan - Pagi itu, sinar mentari di sekitar Desa Batukarang, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, cerah, secerah wajah siswa SDN I Batukarang yang berangkat dari rumahnya menuju sekolah. Dengan penuh semangat akan masa depan yang lebih baik, penerus generasi bangsa itu terlihat antusias menuju sekolahnya. Tapi keceriaan para pelajar desa itu tidak berlangsung lama. Sesampainya di halaman sekolah, mereka tidak bisa berebut masuk ke ruang kelas sebagaimana biasa mereka lakukan setiap hari. Kayu bersilang dengan paku berukuran besar menempel pada pintu masuk semua ruang kelas. Sekolah yang mereka tempati disegel oleh H Said, warga desa setempat yang memiliki tanah tempat bangunan sekolah itu berdiri. Menurut H Said, dirinya terpaksa melakukan penyegelan, karena tanah yang ditempati lembaga pendidikan tersebut memang merupakan milik pribadinya. Ia sudah mengusulkan kepada pemerintah setempat memberikan ganti rugi, tapi tak kunjung ditanggapi...

Fenomena Mengemis di Madura

Oleh: Abd Aziz Pamekasan - Menjelang hari raya Idulfitri, pengemis mulai berdatangan ke Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Mereka datang dari berbagai daerah dan pelosok desa di Pamekasan, bahkan tidak sedikit dari luar kota Pamekasan. Seperti Desa Jaddung, Kecamatan Pragaan, Kebupaten Sumenep. Kedatangan mereka itu bukan hanya sendirian, tapi berkolompok. Mereka hanya mengandalkan kekompakan yang senasib dan sepenanggungan. Seolah sudah mengerti tempat-tempat yang harus didatangi, begitu sampai di sekitar monomen Arek Lancor Pamekasan, para pengemis yang umumnya dari kaum perempuan ini langsung memisahkan diri. Ada yang nongkrong di depan toko pakaian, supermarket, toko elektronik bahkan ada pula di depan ATM dan kantor pos.