Langsung ke konten utama

Ketika Kandang Ayam Harus Menjadi Tempat Hunian

Oleh Abdul Aziz

Memiliki rumah besar, dengan halaman luas lengkap dengan berbagai peralatan kebutuhan hidup sehari-hari, merupakan impian semua orang, apalagi dengan mobil mewah, namun tidak demikian dengan pasangan suami istri Mohammad Tamim (35) dan Muslihah (32).

Jangankan rumah besar dengan halaman luas, rumah kecilpun mereka tidak punya, sehingga dengan terpaksa menjadikan bekas kandang ayam sebagai tempat tinggal mereka, bersama tiga orang anaknya yang masih kecil.


"Kondisi seperti ini kok bisa luput dari pendataan saat ada bantuan rumah tidak layak huni baru-baru ini," kata Bupati Pamekasan Kholilurrahman saat melihat secara langsung kondisi rumah tempat tinggal Tamim dan keluarganya itu di Dusun Tenjang, Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, Sabtu (22/5).

Di rumah tidak layak huni berukuran sekitar 3x4 meter inilah Tamim bersama istri dan tiga orang anaknya, Milda (5), Ulfia Narafifah (9) dan Luluk Agustinah (10) tinggal. Tidak hanya itu saja, sepupunya Agus Yulianto dan istrinya Husnol, yang juga tidak memiliki rumah juga tinggal di rumah ini.

Rumah berukuran sangat kecil ini juga dijadikan tempat memasak. Panci, kompor dan baju menyatu menjadi satu.

"Ya beginilah kehidupan kami sehari-hari," kata Muslihah kepada Bupati Kholilurrahman, dengan wajah tertunduk lesu yang waktu itu bertandang ke rumahnya.

Sebelum menghuni rumah yang merupakan bekas kandang ayam milik warga di dusun Tenjang itu, Tamim bersama istrinya Muslihah dan anak-anaknya hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, demikian juga dengan Agus dan Husnol.

Tidak jarang mereka tidur di trotoar jalan dan seringkali diusir petugas.

"Setelah ada bekas kandang ayam yang kami tempati sekarang ini, kehidupan kami agak lebih tenang," kata suaminya, Tamim.

Luput bantuan

Meski keluarga Mohammad Tamim dan Muslihah ini merupakan keluarga yang sangat miskin, namun selama ini ia luput dari pendataan bantuan rumah tidak layak huni yang dicanangkan pemerintah pada 2008 .

Tidak hanya itu, bantuan beras untuk keluarga miskin (raskin) saja, hanya menerima empat kali dan hal itu pun sering tidak ia tebus dengan alasan sering tidak punya uang saat jatah raskin itu didistribusikan.

"Soalnya saat pendataan dulu, mereka belum tinggal di kampung ini masih berpindah-pindah. Setelah ada tempat bekas kandang ayam ini, Pak Tamim dan keluarganya menetap dan menjadi warga Desa Branta," kata Kepala Desa Branta Pesisir, Misbahul Laila.

Tamim dan Agus, hanya sebagian dari keluarga miskin dan memiliki rumah tidak layak huni yang ada di Desa Branta Pesisir Kecamatan Tlanakan.

Menurut Sekretaris Desa Branta Pesisir, Amirozi, di Desa Branta itu sekitar 70 persen penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan. Dari jumlah itu, sekitar 25 persen diantaranya penduduknya tinggal di rumah yang tidak layak huni.

"Yang 25 persen penduduk ini tempat tinggalnya tidak memenuhi standart hidup sehat dan hidup layak," kata Amrozi.

Bantu rumah

Kondisi keluarga Tamim dan Muslihah yang tinggal di bekas kandang ayam ini mengundang keprihatinan Pemkab Pamekasan.

Bahkan Bupati Pamekasan Kholilurrahman yang saat itu datang langsung ke rumahnya meninjau kondisi kelurga Tamim, memastikan pemkab akan memberi bantuan rumah tinggal bagi mereka.

"Kami akan mempersiapkan dana sebesar Rp20 juta, dan pelaksanaan bantuan secara teknis nantinya akan dilakukan oleh oleh Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disosnakertrans) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU)," kata Kholilurrahman, sesaat setelah berkunjung ke rumah tinggal Mohammad Tamim.

Menurut Kholil, bekas kandang ayam yang ditempati pasangan keluarga Mohammad Tamim dan Muslihah sangat tidak layak huni, kumuh dan tidak memenuhi standart hidup sehat. Apalagi rumah bekas kandang ayam seluas 3x4 meter itu ditempati dua kepala keluar, yakni Mohammad Tamim-Muslimah dan Agus Sugianto-Hosnol.

Agus dan Hosnol ini masih memiliki hubungan famili dengan Mohammad Tamim, yang juga sama-sama tidak memiliki rumah, sehingga bekas kandang ayam yang berukuran 4x3 meter ini dihuni tujuh orang, termasuk tiga anak Mohammad Tamim yang masih duduk di bangku sekolah dasar (SD).

Selain sangat tidak layak huni, lokasi rumah tinggal pasangan suami istri Tamim-Muslimah ini sangat kumuh. Selain bau tidak sedap dari pengeringan ikan, lingkungan di sekitar rumahnya juga kotor karena di belakang rumahnya menjadi tempat pembuangan sampah.

Menurut Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pamekasan, Herman Priyanto, kelurga Tamim dan Agus yang kini tinggal di bekas kandang ayam itu hanyalah sebagian dari warga Pamekasan yang hidup dibawah garis kemiskinan.

Berdasarkan pendataan yang dilakukan selama ini, total warga Pamekasan yang hidup dibawah garis kemiskinan mencapai 234.019 jiwa dari total 851.690 orang penduduk yang ada di Kabupaten Pamekasan.

"Sekitar 35,76 persen penduduk di Kabupaten Pamekasan ini masuk dalam kategori kemiskinan," kata Herman Priyanto.

Di tingkat Provinsi Jawa Timur saja, kata Kepala Disnakertrans Herman Priyanto, jumlah penduduk yang berada di bawah garis Kemiskinan mencapai 6,02 juta atau 16,68 persen.

Dibandingkan dengan penduduk miskin pada bulan Maret 2008 yang berjumlah 6,651 juta atau 18,51 persen, jumlah penduduk miskin turun sebesar 628,69 ribu jiwa.

"Ini berarti bahwa jumlah penduduk miskin Pamekasan berada jauh di atas angka rata-rata kemiskinan di Jawa Timur," kata Herman Priyanto.

Menurut Herman, di Kabupaten Pamekasan terdapat 13 kecamatan, terdiri dari 189 desa/kelurahan. Dari 13 kecamatan yang ada itu, angka kemiskinan tertinggi berada di wilayah Kecamatan Proppo, yakni sebanyak 37.645 jiwa dari jumlah penduduk sebanyak 80.089 jiwa atau sekitar 47 persen dari total jumlah penduduk di wilayah itu.

"Jadi melebihi dari persentase rata-rata kemiskinan yang ada di Kabupaten Pamekasan," terang Herman.

Sementara, sambung dia, untuk tingkat desa, angka kemiskinan terbanyak di Desa Branta Pesisir, Kecamatan Tlanakan, yakni mencapai 70 persen dari total jumlah penduduk yang tinggal di desa itu.

"Sesuai data, di Desa Branta Pesisir ini angka kemiskinannya memang tertinggi dibandingkan dengan desa-desa lain yang ada di Pamekasan," pungkas Herman Priyanto.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mencari Jalan Tengah Mengatasi Peredaran "Rokok Durno" di Madura

PAMEKASAN -  Peredaran rokok ilegal akhir-akhir ini semakin marak, menyebar di berbagai wilayah di negeri ini, tak terkecuali di empat kabupaten di Pulau Madura, Jawa Timur; Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan. Rokok tanpa pita cukai atau yang dikenal oleh masyarakat Madura dengan sebutan  rokok durno  itu menunjukkan volume peredaran yang cenderung meningkat secara fantastis. Harga yang jauh lebih murah dengan rasa dan aroma yang tidak kalah dari rokok legal menjadi pertimbangan khusus bagi para perokok. Ratusan merk rokok yang tidak dilekati pita cukai ini banyak terpajang di berbagai toko kelontong, pasar tradisional, hingga di warung-warung kopi pedesaan dengan harga jual yang jauh lebih murah dibanding rokok bercukai, yakni antara Rp8 ribu hingga hingga Rp15 ribu. Para produsen nampaknya juga telah memahami sasaran dan kebutuhan pembeli, sehingga banyak di antara mereka memproduksi rokok menyerupai merek yang telah dikenal luas di masyarakat. Di berbagai acara...

Sinergi Pemerintah Pusat-Daerah Kembangkan Usaha Mikro

Pamekasan - Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam pengembangan ekonomi sangat dibutuhkan, terutama dalam menyukseskan pengembangan kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Bupati Pamekasan Baddrut Tamam menyatakan sinergi dalam artian terlaksana program yang saling membantu dan menguntungkan, akan mempercepat terwujudnya pelaku usaha yang kreatif dan memiliki kemampuan memadai, di samping akan bisa membangun akses jaringan yang lebih luas. Hakikat dari pertumbuhan ekonomi, menurut dia, apabila jaringan usaha semakin luas, kemampuan atau sumber daya manusia (SDM) memadai, dan kemampuan melakukan inovasi produk usaha yang terus menerus atau berkelanjutan. Untuk mewujudkan hal itu, akses jaringan harus diperluas, di samping penting pula untuk memahami kebutuhan pasar dan membuka akses pasar baru dengan mempertimbangkan kebutuhan di daerah lain, baik tingkat lokal, regional, nasional, maupun internasional atau global. "Di sinilah pentingnya adanya sinergi...

Guruku Sayang, Guruku Malang

Oleh Abd Aziz Malam itu, 1 Februari 2018, tiba-tiba menyebar kabar secara berantai di berbagai media sosial, seperti facebook, twitter, dan whatshapp yang mengabarkan bahwa seorang guru seni rupa di SMA Negeri 1 Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, meninggal dunia. Ahmadi Budi Cahyanto, demikian nama guru yang meninggal dunia di Rumah Sakit Dr Soetomo di Surabaya, asal Dusun Paleyang, Desa Tanggumong, Kecamatan Kota Sampang. Sang guru meninggal dunia, setelah dianiaya oleh siswanya sendiri berinisial HI saat yang bersangkutan menyampaikan materi pelajaran seni menggambar di depan ruang kelas XII. Kabar tidak baik ini, menyebar sangat cepat. Maklum, tindakan melawan guru, apalagi memukul, bagi warga Madura, merupakan tindakan sangat tercela, sangat buruk, dan bahkan ada sebagian masyarakat yang menyebut " tidak beradap ". Apalagi posisi guru dalam adat tradisi dan budaya orang Madura, menempati urutan kedua, setelah kedua orang, yakni bapak/ibu. "Bhapa', bhabu...